Dalam Video 3 Minute Thesis yang oleh peserta didik Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Program Studi Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM), Andreas Hartanto Santoso mengungkapkan hasil penelitiannya dengan judul “Korelasi Antara Interval QT Terkoreksi dengan Tekanan Rerata Arteri Pulmonal dan Tahanan Vaskular Pulmonal pada Pasien Defek Septum Atrium yang Belum Dikoreksi”.
Penelitian ini mengevaluasi korelasi antara interval QT terkoreksi (QTc) dengan tekanan rata-rata arteri pulmonal (mPAP) dan tahanan vaskular pulmonal (PVR) pada pasien dewasa dengan defek septum atrium (DSA) yang belum dikoreksi. Hipertensi pulmonal pada DSA umumnya didiagnosis melalui kateterisasi jantung kanan sebagai baku emas, namun prosedur ini bersifat invasif sehingga diperlukan alternatif yang lebih sederhana, seperti elektrokardiografi (EKG). Penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang ini melibatkan 58 pasien yang menjalani kateterisasi jantung kanan pada periode Januari 2025–Maret 2026. Hasil analisis menunjukkan bahwa interval QTc memiliki korelasi positif dan bermakna dengan mPAP (r = 0,447; p = 0,001) serta PVR (r = 0,431; p = 0,001). Analisis kurva ROC menunjukkan bahwa nilai QTc >452 ms memiliki akurasi yang baik untuk membedakan hipertensi pulmonal ringan dan berat (AUC 0,78; sensitivitas 72,7%; spesifisitas 75%), sedangkan nilai QTc >447 ms memiliki akurasi sangat baik dalam mengidentifikasi kelompok dengan rasio PVR/SVR >0,3 (AUC 0,851; sensitivitas 100%; spesifisitas 67,4%). Temuan ini menunjukkan bahwa pemanjangan interval QTc berpotensi menjadi indikator non-invasif yang berguna untuk memperkirakan derajat hipertensi pulmonal dan peningkatan resistensi vaskular pulmonal pada pasien DSA yang belum menjalani koreksi.
Penelitian ini dibimbing oleh dr. Firandi Saputra, Sp.JP, Subsp, I.K.Kv(K) dan dr. Dyah Wulan Anggrahini, Ph.D, Sp.JP(K). Kegiatan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam mempromosikan kesehatan yang baik dan kesejahteraan bagi semua orang serta mengurangi ketidaksetaraan di dalam dan di antara negara melalui peningkatan akses dan kualitas layanan kesehatan.